hipertensi
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI
OLEH:
HENNIES LISTYANINGSIH
NIM:170511013
DOSEN PEMBIMBING:
SUPRILIYAH PRANNINGSIH S.Kep.Ns.M.Kep.
PENYAKIT HIPERTENSI
I. PENGERTIAN
Hipertensi dapat didefinisikan sebagai
tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya diatas 140 mmHg dan tekanan
diastoliknya diatas 90 mmHg.( Smith Tom, 1995 ) Menurut WHO, penyakit
hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar atau sama dengan
160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95 mmHg ( Kodim
Nasrin, 2003 ). Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya
antara 95 – 104 mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105
dan 114 mmHg, dan hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau
lebih. Pembagian ini berdasarkan peningkatan tekanan diastolic karena dianggap
lebih serius dari peningkatan sistolik ( Smith Tom, 1995 ).
II. ETIOLOGI / PENYEBAB
Hipertensi
berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : ( Lany
Gunawan, 2001 )
- Hipertensi
essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya
- Hipertensi
sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain
Hipertensi
primer terdapat pada lebih dari 90 % penderita hipertensi, sedangkan 10 %
sisanya disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum
diketahui dengan pasti penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan
beberapa factor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Factor tersebut
adalah sebagai berikut :
●
Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa
seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi
jika orang tuanya adalah penderita hipertensi
●
Ciri perseorangan Cirri perseorangan yang mempengaruhi
timbulnya hipertensi adalah umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ),
jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) dan ras ( ras kulit
hitam lebih banyak dari kulit putih )
●
Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan
timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ),
kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain misalnya merokok,
minum alcohol, minum obat-obatan ( ephedrine, prednison, epineprin )
III. PATOFISIOLOGI
Mekanisme
yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat
vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna
medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat
vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system
saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah. Berbagai factor seperti kecemasan dan ketakutan
dapat mempengaruhirespon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun
tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada
saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai
respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan
tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang
menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid
lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan
retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume
intra vaskuler. Semua factor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Untuk
pertimbangan gerontology. Perubahan structural dan fungsional pada system
pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi
pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya
elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh
darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang
pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung ( volume sekuncup ),
mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (
Brunner & Suddarth, 2002 ).
IV. TANDA DAN GEJALA
Tanda
dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : ( Edward K Chung, 1995 )
●
Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat
dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri
oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan
pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
●
Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim
yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam
kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis.
V. KLASIFIKASI HIPERTENSI
Hipertensi
di klasifikasikan dalam beberapa tingkatan berdasarkan tinggi sistolik dan
diastolik. adapun klasifikasinya dapat dilihat pada tabel berikut :
|
KATEGORI
|
TEKANAN SISTOLIK
|
TEKANAN DIASTOLIK
|
|
NORMAL
|
DIBAWAH
130 mmHg
|
DIBAWAH
85 mmHg
|
|
PRE HIPERTENSI
|
130
mmHg – 139 mmHg
|
85mmHg
– 89mmHg
|
|
STADIUM I
(HIPERTENSI RINGAN)
|
140
mmHg – 159 mmHg
|
90
mmHg – 99 mmHg
|
|
STADIUM II
(HIPERTENSI SEDANG)
|
160
mmHg – 179 mmHg
|
100
mmHg – 109 mmHg
|
|
STADIUM III
(HIPERTENSI BERAT)
|
180
mmHg – 209 mmHg
|
110
mmHg – 119 mmHg
|
|
STADIUM IV
(HIPERTENSI MALIGNA)
|
210
mmHg atau lebih
|
120mmHg
atau lebih
|
VI. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi yg bisa berlangsung pada penyakit hipertensi menurut TIM POKJA RS Harapan Kita (2003 : 64) & Dr. Budhi Setianto (Depkes, 2007) yakni diantaranya :
●
Penyakit pembuluh darah otak seperti stroke, perdarahan
otak, dan transient ischemic attack
●
Penyakit jantung seperti gagal jantung, angina pectoris,
infark miocard acut (IMA).
●
Penyakit ginjal seperti gagal ginjal.
●
Penyakit mata seperti perdarahan retina, penebalan retina,
oedema pupil.
VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Riwayat
dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh
- Pemeriksaan retina
- Pemeriksaan laboratorium untuk
mengetahui kerusakan organ seperti ginjal dan jantung
- EKG untuk mengetahui hipertropi
ventrikel kiri
- Urinalisa untuk mengetahui
protein dalam urin, darah, glukosa
- Pemeriksaan : renogram,
pielogram intravena arteriogram renal, pemeriksaan fungsi ginjal terpisah
dan penentuan kadar urin.
- Foto
dada dan CT scan
VIII. PENATALAKSANAAN
a.
Olah raga lebih banyak dihubungkan bersama pengobatan hipertensi, sebab olah
raga isotonik (spt bersepeda, jogging, aerobic) yg rutin bisa memperlancar
peredaran darah maka bisa menurunkan tekanan darah. Olah raga dapat juga
digunakan buat mengurangi/ mencegah obesitas & mengurangi asupan garam ke
dalam badan (badan yg berkeringat akan mengeluarkan garam melalui kulit).
Pengobatan hipertensi dengan cara garis besar dibagi jadi 2 type adalah :
- Pengobatan
non obat (non farmakologis)
- Pengobatan
dgn obat-obatan (farmakologis)
Pengobatan
non obat (non farmakologis) Pengobatan non farmakologis kadang-kadang bisa
mengontrol tekanan darah maka pengobatan farmakologis jadi tak digunakan atau sekurang-kurangnya
ditunda. Sedangkan pada kondisi di mana obat anti hipertensi diperlukan,
pengobatan non farmakologis akan dimanfaatkan sebagai pelengkap utk mendapati
efek pengobatan yg tambah baik.
Pengobatan
non farmakologis diantaranya yakni :
●
Diet rendah garam/kolesterol/lemak jenuh
●
Mengurangi asupan garam ke dalam badan.
Nasehat
pengurangan garam, mesti memperhatikan rutinitas makan penderita. Pengurangan
asupan garam dengan cara drastis dapat susah dilaksanakan. Trik pengobatan ini
hendaknya tidak dipakai yang merupakan pengobatan tunggal, namun lebih baik
dipakai juga sebagai pelengkap pada pengobatan farmakologis.
●
Ciptakan kondisi rileks Bermacam Macam trick relaksasi
seperti meditasi, yoga atau hipnosis sanggup mengontrol system saraf yg hasilnya
mampu menurunkan tekanan darah.
●
Melaksanakan olah raga seperti senam aerobik atau jalan
serentak selama 30-45 menit jumlahnya 3-4 kali seminggu.
●
Berhenti merokok & mengurangi mengonsumsi alkohol.
Pengobatan
dengan obat-obatan (farmakologis) Obat-obatan antihipertensi.
Terdapat
tidak sedikit tipe obat antihipertensi yg beredar sekarang ini. Buat pemilihan
obat yg pas diharapkan menghubungi dokter.
●
Diuretik
Obat-obatan
type diuretik bekerja secara mengeluarkan cairan tubuh(melalui kencing) maka volume
cairan ditubuh menyusut yg mengakibatkan daya pompa jantung jadi lebih ringan.
Sample obatannya merupakan Hidroklorotiazid.
●
Penghambat Simpatetik
Golongan
obat ini bekerja dgn menghambat gerakan saraf simpatis (saraf yg bekerja pada
disaat kita beraktivitas ). Contoh obatnya adalah : Metildopa, Klonidin &
Reserpin.
●
Betabloker Prosedur kerja anti-hipertensi
obat
ini ialah lewat penurunan daya pompa jantung. Type betabloker tak dianjurkan
kepada penderita yg sudah didapati mengidap kesukaran pernapasan seperti asma
bronkial. Contoh obatnya yakni : Metoprolol, Propranolol & Atenolol.
Terhadap penderita diabetes melitus mesti hati-hati, dikarenakan akan menutupi
gejala hipoglikemia (keadaan di mana kadar gula dalam darah turun jadi teramat
rendah yg dapat berakibat bahaya bagi penderitanya). Kepada ortu terdapat
gejala bronkospasme (penyempitan saluran pernapasan) maka pemberian obat mesti
hati-hati.
●
Vasodilator
Obat
golongan ini bekerja cepat terhadap pembuluh darah dgn relaksasi otot polos
(otot pembuluh darah). Yg termasuk juga dalam golongan ini yakni : Prasosin,
Hidralasin. Efek samping yg mungkin saja bakal terjadi dari pemberian obat ini
merupakan : sakit kepala & pusing.
●
Penghambat ensim konversi Angiotensin
Trick
kerja obat golongan ini merupakan menghambat pembentukan zat Angiotensin II
(zat yg bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah). Contoh obat yg termasuk
juga golongan ini yaitu Kaptopril. Efek samping yg bisa jadi timbul ialah :
batuk kering, pusing, sakit kepala & lemas.
●
Antagonis kalsium
Golongan
obat ini menurunkan daya pompa jantung secara menghambat kontraksi jantung
(kontraktilitas). Yg termasuk juga golongan obat ini yakni : Nifedipin,
Diltiasem & Verapamil. Efek samping yg bisa jadi timbul merupakan :
sembelit, pusing, sakit kepala & muntah.
●
Penghambat Reseptor Angiotensin II
Kiat
kerja obat ini yaitu dgn menghalangi penempelan zat Angiotensin II kepada
reseptornya yg mengakibatkan ringannya daya pompa jantung. Obat-obatan yg
termasuk juga dalam golongan ini yaitu Valsartan (Diovan). Efek samping yg bisa
saja timbul adalah : sakit kepala, pusing, lemas & mual. Dgn pengobatan
& kontrol yg rutin, pula menghindari perihal dampak terjadinya hipertensi,
sehingga angka kematian akibat penyakit ini bisa ditekan.
ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI
VII. PENGKAJIAN
1.
Aktivitas / istirahat
Gejala
: kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Tanda
: frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
2.
Sirkulasi
Gejala
: Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit
serebrovaskuler
Tanda
: Kenaikan TD, hipotensi postural, takhikardi, perubahan warna kulit, suhu
dingin
3.
Integritas Ego
Gejala
:Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, factor stress
multipel
Tanda
: Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian, tangisan yang
meledak, otot muka tegang, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara
4.
Eliminasi
Gejala
: gangguan ginjal saat ini atau yang lalu
5.
Makanan / Cairan
Gejala
: makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, lemak dan kolesterol
Tanda
: BB normal atau obesitas, adanya edema
6.
Neurosensori
Gejala
: keluhan pusing/pening, sakit kepala, berdenyut sakit kepala, berdenyut,
gangguan penglihatan, episode epistaksis
Tanda
:, perubahan orientasi, penurunan kekuatan genggaman, perubahan retinal optik
7.
Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala
: Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, sakit kepala oksipital berat, nyeri
abdomen
8.
Pernapasan
Gejala
: dispnea yang berkaitan dengan aktivitas, takipnea, ortopnea, dispnea
nocturnal proksimal, batuk dengan atau tanpa sputum, riwayat merokok
Tanda
: distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan, bunyi napas
tambahan, sianosis
9.
Keamanan
Gejala
: Gangguan koordinasi, cara jalan
Tanda
: episode parestesia unilateral transien, hipotensi psotural
10.
Pembelajaran/Penyuluhan Gejala : factor resiko keluarga ; hipertensi,
aterosklerosis, penyakit jantung, DM , penyakit ginjal Faktor resiko etnik,
penggunaan pil KB atau hormon
VIII. PENATALAKSANAAN
Pengelolaan
hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi
kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan
darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip
pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
1.
Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi
ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat.
Terapi
tanpa obat ini meliputi :
a.
Diet
Diet
yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
- Restriksi
garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
- Diet rendah kolesterol dan
rendah asam lemak jenuh
- Penurunan berat badan
- Penurunan asupan etanol
- Menghentikan merokok
- Diet
tinggi kalium
b.
Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat
prinsip yaitu :
- Macam
olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging, bersepeda,
berenang dan lain-lain
- Intensitas olah raga yang baik
antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi
maksimal yang disebut zona latihan. Denyut nadi maksimal dapat ditentukan
dengan rumus 220 – umur
- Lamanya latihan berkisar antara
20 – 25 menit berada dalam zona latihan
- Frekuensi
latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu
c.
Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi
meliputi :
- Tehnik
Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan
pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek
dianggap tidak normal. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk
mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
- Tehnik
relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk
mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara melatih penderita untuk
dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks
d.
Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk
meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya
sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih
lanjut.
2.
Terapi dengan Obat
Tujuan
pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga
mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat
bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup
penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli
Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION AND TREATMENT OF
HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat
beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat
tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang
ada pada penderita. Pengobatannya meliputi :
a.
Step 1 : Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE
inhibitor
b.
Step 2 : Alternatif yang bisa diberikan
- Dosis
obat pertama dinaikan
- Diganti jenis lain dari obat
pilihan pertama
- Ditambah
obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta blocker, Ca
antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin, vasodilator
c.
Step 3 : alternatif yang bisa ditempuh
- Obat
ke-2 diganti
- Ditambah
obat ke-3 jenis lain
d.
Step 4 : alternatif pemberian obatnya
- Ditambah
obat ke-3 dan ke-4
- Re-evaluasi dan
konsultasi
- Follow
Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang
memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas
kesehatan ( perawat, dokter ) dengan cara pemberian pendidikan
kesehatan.
Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah
sebagai berikut :
- Setiap
kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan
darahnya
- Bicarakan dengan penderita
tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya
- Diskusikan dengan penderita
bahwa hipertensi tidak dapat sembuh, namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan
morbiditas dan mortilitas
- Yakinkan penderita bahwa
penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa
yang dirasakannya, tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur
memakai alat tensimeter
- Penderita tidak boleh menghentikan
obat tanpa didiskusikan lebih dahulu
- Sedapat mungkin tindakan terapi
dimasukkan dalam cara hidup penderita
- Ikutsertakan keluarga penderita
dalam proses terapi
- Pada penderita tertentu mungkin
menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya
di rumah
- Buatlah sesederhana mungkin
pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari
- Diskusikan dengan penderita
tentang obat-obat anti hipertensi, efek samping dan masalah-masalah yang
mungkin terjadi
- Yakinkan penderita kemungkinan
perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek
samping minimal dan efektifitas maksimal
- Usahakan biaya terapi seminimal
mungkin
- Untuk penderita yang kurang
patuh, usahakan kunjungan lebih sering
- Hubungi
segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. Melihat
pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali
pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan
hipertensi.
IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan
afterload, vasokonstriksi, iskemia miokard, hipertropi ventricular
Tujuan
: Afterload tidak meningkat, tidak terjadi vasokonstriksi, tidak terjadi
iskemia miokard
Intervensi
keperawatan :
a.
Pantau TD, ukur pada kedua tangan, gunakan manset dan tehnik yang tepat
b.
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
c.
Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
d.
Amati warna kulit, kelembaban, suhu dan masa pengisian kapiler
e.
Catat edema umum
f.
Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas.
g.
Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditemapt tidur/kursi
h.
Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan
i.
Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher
j.
Anjurkan tehnik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan
k.
Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah
l.
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
m.
Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi
Hasil
yang diharapkan :
●
Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD
●
Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima
●
Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil
2.
Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
Tujuan
: Tekanan vaskuler serebral tidak meningkat
Intervensi
keperawatan :
a.
Pertahankan tirah baring, lingkungan yang tenang, sedikit penerangan
b.
Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan
c.
Batasi aktivitas
d.
Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin
e.
Beri obat analgesia dan sedasi sesuai pesanan
f.
Beri tindakan yang menyenangkan sesuai indikasi seperti kompres es, posisi
nyaman, tehnik relaksasi, bimbingan imajinasi, hindari konstipasi
Hasil
yang diharapkan :
●
Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala dan tampak
nyaman
3.
Potensial perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan
dengan gangguan sirkulasi
Tujuan
: sirkulasi tubuh tidak terganggu
Intervensi
:
a.
Pertahankan tirah baring; tinggikan kepala tempat tidur
b.
Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan; tidur, duduk dengan pemantau
tekanan arteri jika tersedia
c.
Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai pesanan
d.
Amati adanya hipotensi mendadak
e.
Ukur masukan dan pengeluaran
f.
Pantau elektrolit, BUN, kreatinin sesuai pesanan
g.
Ambulasi sesuai kemampuan; hibdari kelelahan
Hasil
yang diharapkan :
●
Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik
seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima, tidak ada
keluhan sakit kepala, pusing, nilai-nilai laboratorium dalam batas
normal.
●
pengeluaran urin 30 ml/ menit
●
Tanda-tanda vital stabil
4.
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses
penyakit dan perawatan diri
Tujuan
;Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi
Intervensi
a.
Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur
b.
Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang, tidak penuh dengan stress
c.
Diskusikan tentang obat-obatan : nama, dosis, waktu pemberian, tujuan dan efek
samping atau efek toksik
d.
Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter
e.
Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter :
sakit kepala, pusing, pingsan, mual dan muntah.
f.
Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil
g.
Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat
h.
Diskusikan perlunya diet rendah kalori, rendah natrium sesuai pesanan
i.
Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat, jumlah yang
diperbolehkan, pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein, teh serta
alcohol
j.
Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan
Hasil
yang diharapkan :
●
Pasien mengungkapkan pengetahuan dan ketrampilan
penatalaksanaan perawatan dini
●
Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai pesanan
DAFTAR PUSTAKA
- Doengoes,
Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
Pendokumentasian Perawatan pasien, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran, EGC,
2000
- Gunawan, Lany. Hipertensi :
Tekanan Darah Tinggi , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 2001
- Sobel, Barry J, et all.
Hipertensi : Pedoman Klinis Diagnosis dan Terapi, Jakarta, Penerbit
Hipokrates, 1999
- Kodim Nasrin. Hipertensi : Yang
Besar Yang Diabaikan, @ tempointeraktif.com, 2003
- Smith Tom. Tekanan darah Tinggi
: Mengapa terjadi, Bagaimana mengatasinya ?, Jakarta, Penerbit Arcan,
1995
- Semple Peter. Tekanan Darah
Tinggi, Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa Jakarta, Penerbit Arcan,
1996
- Brunner & Suddarth. Buku
Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC, 2002
- Chung, Edward.K. Penuntun
Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Edisi III, diterjemahkan oleh Petrus
Andryanto, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1995
- Marvyn, Leonard. Hipertensi :
Pengendalian lewat vitamin, gizi dan diet, Jakarta, Penerbit Arcan,
1995
- Tucker,
S.M, et all . Standar Perawatan Pasien : Proses Keperawatan, diagnosis dan
evaluasi , Edisi V, Jakarta, Buku Kedokteran EGC, 1998
Komentar
Posting Komentar